Kyai Imam Hanafi, Jadi Orang Tua bagi Anak Yatim Piatu

“Panggilan untuk menjadi seorang pengasuh bukan sebuah keputusan yang mudah bagi setiap pribadi. Kadang orang berpikir pekerjaan demikian sangat sukar dan membosankan, apalagi mengurus anak-anak di pondok pesantren. Padahal, kebaktian tersebut merupakan karier yang mulia bagi umat manusia bila ditilik dari lubuk hati yang terdalam.”

Itulah ungkapan hati dari Kyai Imam Hanafi, pendiri sekaligus pengurus Pondok Pesantren Darussalamah di Tiyuh (desa) Candra Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat, Lampung.

Beliau memiliki pengalaman sendiri di pondok tersebut baik suka maupun duka. Selama dipercaya mengurus anak yatim piatu, ia benar-benar merasakan baktinya kepada anak-anak tersebut.

Impian besar untuk mengalami langsung suka duka anak-anak lantaran menyerahkan diri sepenuhnya untuk melayani pun terwujud sejak itu. Dengan cara demikian, menurutnya, makna kehidupan adalah sebagai pelayan terhadap sesama manusia.

Awalnya saya merasa terpanggil dan secara pribadi saya merasa sangat prihatin terhadap kehidupan anak-anak lebih khusus anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang ditinggalkan kedua orang tua mereka.

“Sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan bantuan baik pemda, pemerintah tiyuh maupun provinsi, untuk anak-anak yatim. Padahal tiap minggu dan bulan semakin bertambah jumlahnya,” terangnya.

Terkadang mereka merasa kesulitan dengan terbatasnya keuangan yang hanya mengandalkan donatur yang tidak seberapa, namun Alhamdulilah berkat niat yang tulus sampai saat ini masih bisa bertahan.

Kesulitan itu sepertinya menjadi sesuatu yang tak terhindarkan di pondok ini. Khususnya bagi 70 orang anak. Berbagai tantangan harus diterima dan di jalani.

Sementara Lurah Pondok Pesantren Darussalamah, Dwi Sulistyo menceritakan pengalamannya di pondok pesantren tersebut selama berjuang untuk bertahan, mulai dari banting tulang hingga meminta bantuan dari rumah kerumah.

Mereka cuma berdoa dan berusaha untuk mencukupi kebutuhan anak-anak asuhnya. Puji Tuhan, karena mempunyai niat dari lubuk hati, kami terus menahan diri untuk memelihara, mendidik, dan mengawasi mereka dengan segala kekurangan sampai saat ini.

“Untuk sementara anak-anak yatim kami ini kurang lebih 70 orang, tapi masih kita ikutkan dengan orang tua atau nenek mereka dirumah masing-masing karena tempat kita belum memadahi, tapi untuk santunannya tiap bulan dari para donatur selalu kita berikan langsung secara simbolis,” imbuh dia. (Fer/rls)

author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.