Samuel Huntington Dalam Clash of Civilzation, Benarkah Konflik Yang Disebabkan Oleh Agama Dapat Terjadi?

(Oleh : Pyngkan Daola Bangsaratoe)

Samuel Philips Hungtinton merupakan seorang ilmuan politik yang berasal dari Amerika Serikat dan merupakan guru di Jurusan Ilmu Politik di Universitas Hardvard pada bidang Kajian Internasional dan Regioonal di Weatherhead Center for International.

Hungtington memiliki beberapa karya seperti buku yang berjudul Political Order in Changing Societies yang ditulis tahun 1968, Foreign Affairs pada tahun 1993, Religion and the Third Wave beberapa karya lainnya dan salah satu karyanya yang paling terkenal yaitu The Clash of Civilizations and The Remarking of World Order. Dalam bukunya,

Hungtington menjelaskan mengenai benturan peradaban yaitu identitas dan budaya dari suatu masyarakat yang salah satunya berupa agama merupakan sumber utama terjadinya konflik setelah perang dingin. Ketika perang dingin telah selesai, dua negara super power tidak lagi menggunakan identitas power negaranya namun negara ini memilih identitas masing-masing sesuai dengan ideologi yang telah dipilih oleh masing-masing negara bagian baik komunis, liberal, sosialis dll.

Peradaban sendiri merupakan bentuk dari entitas budaya dan tingkatan tertinggi dari suatu pengelompokkan ditingkatan identitas sehingga  budaya inilah yang membedakan masyarakat satu dengan yang lainnya. Budaya dalam konteks ini merupakan perwakilan dari banyak wilayah, kelompok etnis, kebangsaan, agama, dan daerah.

Hungtinton menggolongkan sembilan peradaban besar yang ada didunia yaitu: beberapa agama seperti Islam, Hindu, Kristen, Ortodoks, bagian wilayah seperti Barat, beberapa negara seperti Jepang, Amerika Latin dan Afrika Selatan dan ajaran konfusianisme. Dari penggolongan ini maka dapat disimpulkan bahwa Hungtington mencampuradukan berbagai peradaban seperti: aspek benua, aspek agama, aspek negara, aspek etnis, aspek konfusianis, aspek wilayah.

Hungtington menjelaskan ada enam faktor utama terjadinya konflik antar peradaban pasca perang dingin. Pertama, dengan adanya perbedaan yang paling mencolok yaitu agama dapat membentuk cara pandang masyarakat mengenai tuhan, kelompok / organisasi, negara, hingga hak dan kewajiban perindividu, Perbedaan dalam agama inilah yang menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

Kedua, peningkatan globalisasi membuat pergesekan antar peradaban meningkat karena dunia seolah tanpa batas. Ketiga, agama dijadikan pedoman paling kuat oleh banyak masyarakat karena identitas lokal yang semakin hilang akibat moderenisasi.

Keempat, sebagian benturan yang ada disebabkan karena perbedaan pemahaman barat dan non-barat. Kelima, perbedaan budaya seperti agama merupakan aspek yang paling sulit berasatu daripada perbedaan eknomi maupun politik. Keenam, regionalisme muncul karena telah terjadi konflik antar wilayah dan konflik ini telah menyadarkan peradaban itu sendiri

Landasan konseptual

Negara dalam mengambil keputusan sebenarnya menggunakan rational choice karena telah mempelajari sifat-sifat negara lain dari masalalu. Pengalaman dan kejadian-kejadian dimasa lalu dianggap penting dan memiliki pengaruh terhadap suatu negara dalam memutuskan perilaku para decision maker dalam dunia sosial yang kompleks. Tindakan ini didasari oleh perilaku atau tindakan masyarakat yang menentukan pilihannya dengan meminimalisir pengeluaran namun mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Teori ini berisikan tiga aspek yang saling berhubungaan yaitu desire, beliefs dan information. Jika dijabarkan dari ketiga aspek tersebut sebagai berikut: desire merupakan tindakan yang dipengaruhi oleh suatu keinginan atau tujuaan, belief merupakan keinginan atau tujuan yang telah ditentukan oleh bukti-bukti berupa data atau informasi yang telah didapat, information merupakan data yang menyangkut seberapa penting tujuan yang ingin dicapai dan pertimbangan untung rugi.

Pembahasan

Pendapat Hungtington dianggap sebagai doktrin bagi banyak manusia karena hasil dari pendapatnya membuat banyak orang dari apek agama saling curiga satu sama lain karena berhasil terpancing. Hasil dari adanya kecurigaan ini membuat stereotype antar budaya. Sebagai contoh, Barat mengganggap orang-orang di Timur (khususnya Islam) merupakan orang yang dianggap miskin, suka memberontak, selalu berkompetiti dan suka menggunakan kekerasan.

Sementara Timur menganggap Barat merupakan sekumpulan orang-orang yang sekuler, rasis, selalu merasa benar, materialis dan kesan-kesan negatif lainnya. Contoh yang paling sering didengar yaitu Islam merupakan agama yang sering menggunakan kekerasan. Tentunya pandangan ini menurut penulis salah karena pada era moderen seperti sekarang, negara-negara saling ketergantungan sehingga tiap-tiap negara mencari solusi demi keberlangsungan hidup yang damai.

Beberapa solusi yang dapat ditemukan yaitu: tiap-tiap negara menjaga perdamaian, proteksi sumber daya alam yang berpengaruh  besar terhadap keberlangsungan dan kerjasama ekonomi. Kerja sama secara globallah yang menyatukan perbedaan banyak aspek selain itu kerjasama ini saling mengintegrasi antar budaya.

Kalimat “identitas budaya” yang dijelaskan oleh Hungtington merupakan penggabungan beberapa aspek dengan merujuk pada kejadian-kejadian yang sesuai dengan aspek tersebut sehingga pendapat ini terkesan benar. Teori ini kemudian dijadikan sebagai suatu pembenaran oleh Barat dalam mencapai supermasi. Barat terkesan tidak peduli terhadap konsekuensi yang akan dihadapi pada generasi penerusnya.

Karena pendapat Hungtington inilah banyak orang yang beranggapan bahwa identitas budaya ini merupakan asan fundamental, tetapi kenyataannya asas fundamental merupakan salah satu instrumen dalam menganalisa yang digunakan oleh Barat. Perlu dipahami bahwa asas fundamental ini menyebar karena hegemoni Barat, sehingga tiap-tiap indentitas budaya memiliki fundamentalismenya dan tantangan tersendiri dalam berekspresi, mendapatkan pengakuan dan perlindungan dari suatu ancaman pada seluruh identitas budaya.

Kemudian ada pertanyaan yang berupa “Apakah ada konflik yang disebabkan oleh agama dan Mengapa konflik antar umat agama dapat terjadi?” Penulis menjawab tidak, konflik besar antar umat seperti Amerika Serikat dan Irak yang bersumber dari kasus 11 September 2001 atau dikenal dengan peristiwa 9-11 tidak dapat dibuktikan mewakili wajar dari identitas agama.

Peristiwa-peristiwa besar seperti perang teluk I merupakan bukti bahwa konflik yang terjadi didasari atas rational choice. Teori dari rational choice dedefinisikan sebagai tindakan atau keputusan yang telah dibuat dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Jika negara sebagai aktornya, maka negara tersebut telah menganalisis semua pilihan dan memilih tindakan rasional yang paling menguntungkan. Negara melakuan rational choice biasanya dipengaruhi oleh pengalaman masalu. Konflik yang terjadi menurut Hungtington yang disebabkan oleh benturan identitas peradaban sebenarnya terjadi karena perbedaan kepentingan nasional atau konflik kepentingan (conflicts of interest).

Moderenisasi yang terjadi pada saat ini membuat kecenderungan elit penguasa menjadi terbuka terhadap masyarakatnya sehingga kemungkinan terjadinya perang antar identitas peradan dalam skala besar tidak akan terjadi. Moderensasi mencakup kedalam kerjasama regional dalam ekonomi dan politik sesuai dengan misi yang telah dibuat bersama seperti menciptakan lingkungan yang damai dan ekonomi yang stabil dan bukan karena kesamaan identitas budaya. Pendapat Hungtington yang menyebutkan konflik terjadi atas benturan identitas budaya dianggap penulis sebagai suatu ilusi untuk memecah belah identitas itu sendiri dan memunculkan sikap saling curiga.

Kesimpulan

Pendapat yang dikemukakan oleh Hungtington membuat negara-negara maupun identitas budaya satu sama lain memiliki kecurigaan dan hanya memuclkan stereotype sendiri dengan dasar trauma sejarah antara Barat dan non-Barat, Islam dan identitas budaya lainnya. Generalisasi yang dilakukan oleh Hungtington didukung oleh Barat dalam mempertahankan power serta westernisasi.

Nyatanya konflik-konflik yang terjadi didasarkan pada berbedaan kepentingan nasional suatu negara, perbedaan ideologi, politik dan ekonomi. Selain itu Hungtington juga kurang menyadari bahwa moderenisasi menimbulkan integrasi regional demi mencapai kepentingan bersama sehingga gesekan antar identitas budaya dapat dihindari.

Daftar Pustaka

  • Benjamin Barber, Jihad vs McWorld (New York : Times Book. 1995)
  • Dewi Fortuna Anwar, “Kemerosotan Barat dan Kerisauan Huntington” dalam Ulumul Qur’an, Nomor 5, Vol. IV. Th. 1993
  • Huntington, Samuel P. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York, NY: Simon and Schuster, 1996.
  • John Scott, Rational choice Theory,
    Jon Elster, “Nuts and Bolts for the Social Sciences” (Cambrige: Cambridge University Press, 1989).

(Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung. Kelas: Paralel. NPM: 1846071001 UTS Agama dalam Hubungan Internasional)

author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.