
Mengangkat tema “Hamparan Syukur di Kaki Gunung Rajabasa”, perayaan tahun ini dihadiri langsung Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama. Kehadiran kepala daerah itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat melalui prosesi adat berupa pengalungan sarung dan pemasangan peci oleh para tokoh adat sebagai simbol penghormatan sekaligus penghargaan terhadap kepedulian pemerintah dalam melestarikan budaya daerah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua DPRD Lampung Selatan Merik Havit, unsur Forkopimda, jajaran kepala perangkat daerah, Camat Kalianda, Kepala Desa Sumur Kumbang, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang memadati lokasi acara.
Cuaca yang sempat diguyur hujan tidak mengurangi semangat masyarakat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sejak pagi, warga bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan acara, mulai dari penyediaan hidangan, penyembelihan hewan, hingga penataan lokasi kegiatan. Semangat kebersamaan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Prosesi diawali dengan pembagian air berkah yang diambil dari sejumlah mata air atau sumur keramat di Desa Sumur Kumbang. Air tersebut terlebih dahulu didoakan oleh tokoh agama dan sesepuh adat sebagai simbol permohonan keberkahan, keselamatan, serta ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya, masyarakat mengarak Jembul, yakni rangkaian hasil bumi dan komoditas pertanian yang dihias sedemikian rupa sebagai lambang rasa syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima. Meski hujan sempat turun, arak-arakan tetap berlangsung meriah dan menjadi pusat perhatian masyarakat.
Suasana semakin semarak saat tradisi perebutan isi Jembul dimulai. Ratusan warga berbaur penuh kegembiraan memperebutkan hasil bumi yang diyakini membawa keberkahan, kemakmuran, serta harapan akan panen yang lebih baik di masa mendatang.
Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama yang mempererat hubungan kekeluargaan antara masyarakat, tokoh adat, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Dalam sambutannya, Bupati Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa Sedekah Bumi memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar agenda tahunan. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, filosofi kehidupan, dan semangat gotong royong yang harus terus dijaga.
“Acara seperti ini menunjukkan filosofi yang kuat dan menjadi identitas masyarakat kita. Saya ingin tradisi ini terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi kebanggaan generasi muda, sehingga mereka semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” ujar Egi.
Ia menilai derasnya perkembangan zaman tidak boleh mengikis identitas budaya masyarakat. Karena itu, pelestarian tradisi lokal harus terus diperkuat agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, lanjut Egi, berkomitmen memberikan dukungan terhadap berbagai tradisi masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan budaya daerah. Bahkan, Sedekah Bumi Sumur Kumbang diharapkan dapat berkembang menjadi agenda budaya berskala lebih besar yang mampu menarik perhatian masyarakat luas sekaligus memperkenalkan potensi budaya Lampung Selatan.
“Tradisi seperti ini harus terus kita rawat dan kita jaga. Tidak banyak daerah yang masih memiliki budaya dan adat istiadat seperti ini. Mari bersama-sama melestarikannya agar tidak lekang dimakan waktu,” kata Egi.
Melalui penyelenggaraan Sedekah Bumi yang telah bertahan lebih dari dua abad, masyarakat Desa Sumur Kumbang bersama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan bahwa menjaga budaya bukan hanya mempertahankan warisan masa lalu, tetapi juga mewariskan identitas, nilai kebersamaan, dan kearifan lokal kepada generasi mendatang. (*)