Bandarlampung, Warta9.com – Pakar psikologi Universiras Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Abdul Mujib, MAg, MSi, mengatakan, era revolusi industri 4.0 memberi kemudahan dalam proses pembelajaran namun memberi masalah baru dalam sisi kemanusiaan.
Dia memberi contoh untuk belajar agama, seseorang tidak perlu mengundang ustad atau kiai. Tapi, dengan membuka google, mereka sudah bisa belajar agama. Karena sekarang belajar bisa menggunakan e-learning.
Demikian dikemukakan oleh Abdul Mujib, dalam temu ilmiah dan seminar nasional yang digelar oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakuktas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, di GSG kampus setempat, Kamis (27/9/2018).
Di era revolusi industri 4.0 banyak keluar produk-produk teknologi bukan hanya memberi kemudahan dalam proses pembelajaran. Namun juga melahirkan masalah baru bagi sisi kemanusiaan. Dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri keempat ini, manusia dituntut untuk tidak menghilangkan sisi kemanusiaannya.
Pof. Abdul Mujib, menyampaikan bahwa masuknya revolusi industri generasi keempat menjadi tantangan bagi para akademisi dan perguruan tinggi termasuk pendidikan agama Islam. “Karakteristik revolusi industri keempat yaitu adanya digital economy, artificial intelligence, big data dan robotic. Revolusi industri bukan saja mengganti energi hidup dengan mesin, tetapi pikiran manusia juga diganti dengan mesin,” kata Abdul Mujib.
Untuk menyikapi hal tersebut tergantung kita, apakah menjadikannya sebagai sebuah peluang, ancaman, atau tantangan. Prof Abdul Mujib juga menyarankan agar mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam jangan minder. Mahasiswa harus yakin mampu bersaing dengan mahasiswa umum lain.
Abdul Mujib menambahkan ada dua cara dalam upaya menyambut revolusi industri keempat. “Pertama, menyiapkan dan mengembangkan SDM agar mampu berdaya saing. Kedua, antisipasi dampak negatif, terutama dehumanisasinya dan mencarikan solusi atau terapinya.
Karenanya, peranan psikologi harus dihadirkan untuk mengembangkan dan memperkaya kekuatan positif manusia. Dengan pendekatan pengembangan diri yakni kesuksesan, kuat, optimisme, baik, bahagia, sehat dan rasa cinta.
“Untuk itu dengan adanya revolusi generasi keempat kita perlu menerima secara menyeluruh dan mampu mempertimbangkan hal-hal yang bertolak belakang dengan nilai-nilai ke-Islaman. (W9-jam)









