Panaragan — Perempuan tua berjilbab itu dengan sangat hati-hati turun dari sepeda motor. Dipapah oleh tukang ojek, ibu yang saat itu memakai pakaian batik tua dan jilbab coklat muda tersebut bertanya kepada beberapa orang yang ada di depan kantor KPU Kabupaten Tulangbawang Barat, Lampung.
“Ini kantor KPU Tulangbawang Barar?” tanya ibu yang ternyata seorang tunanetra tersebut. “Iya, Bu. Ada keperluan apa?” tanya petugas, salah satu staf pegawai KPU.
“Nama saya Murtini, saya mau bertemu dengan Ketua KPU” ujarnya. Lalu dengan diantar petugas KPU, Murtini masuk ke kantor. Namun sayang, orang yang ia cari ternyata sedang menjalankan tugas (Rapat). Meski begitu, ia tetap dilayani oleh staf KPU bernama Wahyu.
Murtini, yang mengaku sudah meraih gelar doktor, datang ke Tubaba untuk melakukan kunjungan ke beberapa kantor instansi pemerintah, yakni Kesbangpol, Dinsos, Bappeda, Kantor Bupati dan lainnya.
“Tujuan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk memperoleh gelar profesor dan untuk mengetahui tingkat pelayanan publik terhadap penyandang tunanetra,” kata ibu berlogat melayu ini, Senin (8/10).
Ia mengaku sebagai dosen pasca sarjana di Universitas Jakarta (UNJ). Wanita yang dalam surat perjalanannya tercatat sebagai warga Komplek Perwira Tinggi Cibubur RT 1/15 Jakarta Timur ini mengaku, perjalanan keliling Indonesia dilakukan karena ia ingin mengetahui pelayanan publik, baik di kepolisian, TNI, maupun pejabat di tingkat pemerintahan kabupaten/kota, terhadap penyandang tunanetra.
Dari hasil kunjungan ini, Murtini menyimpulkan, ada beberapa kantor yang belum memberikan pelayanan publik secara maksimal, terutama kantor-kantor di pemerintah daerah. Sementara itu, juga ada kantor yang dinilainya sudah berjalan dengan baik.
Menurut Murtini, pelayanan publik di pemerintah daerah belum maksimal karena rendahnya sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki SDM agar pelayanan publik berjalan maksimal.
Ada tiga hal mendasar yang membuatnya rela meninggalkan suami dan anak-anak tercinta. Tiga hal tersebut adalah dalam rangka menyelesaikan proses pendidikan gelar profesornya.
Selanjutnya adalah rasa keingintahuannya bagaimana pelayanan yang diberikan para pejabat di lingkungan PNS maupun instansi pemerintah lainnya terhadap orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik seperti dirinya. Dan terakhir adalah dalam rangka memecahkan rekor MURI.
Seteleh mengeliling 30 Provinsi di Indonesia, kini, Murtini datang berkunjung di Kabupaten Tulangbawang Barat, Lampung. Berbagai pengalamanpun telah dirinya rasakan. Mulai dari yang baik hingga yang kurang mengenakkan, bahkan sempat dibilang pengemis.
Murtini menceritakan bahwa dirinya sering di acuhkan oleh para aparatur negara. Kejadian ini tentunya membuat Murtini makin yakin bahwa tidak semua pejabat di negeri ini mau menerima orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik seperti dirinya.
“Masa dikira pengemis. Tujuan saya bukan minta uang. Hanya silaturahmi saja sekaligus minta tandatangan dan cap saja,” ungkapnya kesal.
Ia optimis akan dapat mencapai gelar profesor dan memecahkan rekor MURI setelah seluruh instansi pemerintah di Indonesia terjelajahi. “Besok rencananya saya mau di antar Pak Bupati Umar Ahmad ke Kabupaten Mesuji. Kata pak Bupati sih jam 8 pagi,” tukasnya. (W9-jon)











