oleh

Ratna Dewi, Alumni Universitas Teknokrat Bercita-cita Ingin Jadi Guru, Bersama Suami Kini Meniti Karir di BKN

Ratna Dewi saat berada di kantor BKN.

Bandarlampung, Warta9.com – Semangat dalam belajar aktif mengikuti kegiatan kampus akan membantu seseorang dalam melangkah meraih kesuksesan. Karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Inilah yang sekarang dialami Ratna Dewi, SS, MSi, alumni S1 Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia dulu Perguruan Tinggi Teknokrat (2008-2013).

Ratna Dewi kini sedang bertugas dan meniti karir sebagai ASN sebagai Pranata Humas Ahli Pertama pada Biro Humas, Hukum dan Kerja Sama Badan Kepegawaian Negara (BKN). Menariknya, Ratna Dewi tidak sendiri, suatu yang membahagiakan, suami Ratna Dewu, M. Ario Susanto, S.Hum, M.Si, juga diterima di BKN dengan jabatan Analis Kerja Sama BKN.

Bagaimana perjuangan Ratna Dewi, sebelum menjadi abdi negara di BKN. Kepada Warta9.com, wanita yang aktif di Teknokrat English Club dan lulus cumlaude dan wisudawati terbaik II, menceritakan lika-liku dan perjuangannya.

Ratna Dewi menceritakan, sebelum lulus kuliah sejak 2011, ia berkerja sebagai English Interpreter pada perusahaan Multinasional Siemens VAI dan berkantor di PT Hanjung Indonesia Panjang, Lampung. Saat itu, atasannya berasal dari Austria. Ratna juga pernah manjadi asisten dosen di Teknokrat mengajar mata kuliah Bahasa Inggris untuk mahasiswa STMIK dan AMIK Teknokrat dan mata kuliah Pengembangan Pribadi untuk mahasiswa STBA.

Tidak cuma itu, Ratna Dewi dari keluarga sederhana kelahiran Bandarlampung, 8 Desember 1990 ini, juga aktif mengajar les privat Bahasa Inggris dan calistung di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa selama kuliah untuk membiayai kuliahnya.

Pada semester 2, Ratna Dewi pernah mendapat beasiswa dari Gubernur Lampung karena IPK -nya yang tinggi yakni 3.94. Atas belajar kerasnya, maka pada 2011, ia berhasil menyelesaikan semua SKS studinya. Namun, ia menunda mengerjakan skripsi karena sibuk bekerja sebagai interpreter dan sekretaris.

Ratna Dewi sedang bertugas bersama rekan dalam memberikan penjelasan terkait kegiatan kantor. (foto : dok)

Tahun 2012, Ratna mendapat tawaran menjadi Sekretaris pada perusahaan BUMN yang bergerak di bidang Construction & Engineering, PT Rekayasa Industri Jakarta. Dengan bekal kemampuan berbahasa Inggris baik lisan dan tulisan membuat Ratna Dewi mampu memenuhi syarat sebagai sekretaris yang dituntut mampu membuat surat menyurat dalam Bahasa Inggris dan berkomunikasi aktif dalam Bahasa Inggris. Karena saat bekerja di perusahaan ini tak jarang dia bertemu dengan client perusahaan yang berasal dari luar Indonesia.

Ratna Dewi pun mrenceritakan pengalaman saat menempaluh pendidikan di Universitas Teknokrat Indonesia. “Banyak sekali cerita unik ketika saya kuliah di Teknokrat, dahulu teman-teman saya tidak mau mengambil kelas yang sama dengan saya. Hal ini dikarenakan selalu mendapat nilai tertinggi di kelas. Saya selalu mendapat nilai A dalam mata kuliah Grammar dan Conversation. Jika saat itu untuk mendapat nilai A, mahasiswa harus mendapat nilai 90. Jika saat itu saya mendapat nilai tertinggi di kelas 85 maka saya mendapatkan A seharusnya B, lalu nilai dibawah mengikuti yang seharusnya C menjadi D, karena hal ini lah banyak teman-teman yang takut sekelas dengan saya karena takut grade nilainya menurun,” cerita Ratna Dewi, Sabtu (21/8/2021).

Lebih lanjut Ratna Dewi menceritakan, sejak SD memang dia rajin mengikuti kursus Bahasa Inggris karena memang dia suka belajar Bahasa Inggris. Harapannya, suatu saat ia bisa menjadi guru Bahasa Inggris yang profesional. Namun takdir berkata lain, saya bekerja sebagai Sekretaris di Jakarta sejak 2014.

Dua tahun merantau di Jakarta, Ratna Dewi memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 dengan berbekal tabungan selama bekerja sebagai Sekretaris. “Saya meneruskan ke jenjang Pascasarjana Ilmu Komunikasi dengan Jurusan Manajemen Komunikasi Pemasaran Universitas Indonesia. Saya kuliah Senin-Kamis dari pukul 7-9 malam setelah jam kerja usai. Tidak hanya ingin meningkatkan kompetensi diri, melanjutkan S2 merupakan salah satu strategi saya untuk mendaftar PNS (agar masuk langsung golongan IIIb),” cerita Ratna Dewi.

Menurut Ratna Dewi, menjadi PNS adalah harapan terbesar kedua orang tua terhadap dirinya sebagai anak perempuan satu-satunya. Hampir dua tahun kuliah di Pascasarjana UI, menjelang ujian tesis, pada bulan Mei 2018, jodoh menghampirinya. Ia menikah dengan M. Ario Susanto teman sekelasnya di kelas manajemen komunikasi pemasaran.

Uniknya, lanjut Ratna Dewi, ia mendapat pembimbing dan penguji tesis yang sama. September 2018, ia lulus dari Universitas Indonesia dengan mendapat gelas Magister Ilmu Komunikasi. Tak lama kelulusan, pendaftaran CPNS pun dibuka. Ia mencari formasi untuk S2 komunikasi. Tak banyak instansi yang membuka lowongan untuk S2 Komunikasi saat itu. Hanya ada 3 instani, yakni Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan dua kementerian lainnya. Ratna pun tertarik mendaftar PNS di BKN karena saat ini ada 2 formasi untuk S2 komunikasi yakni formasi Pranata Hubungan Masyarakat Pertama dan Analis Kerja Sama.

“Dikarenakan saya dan suami memiliki latar belakang pendidikan yang sama, kami mencoba peruntungan utnuk mendaftar PNS di BKN. Saya mendaftar formasi Pranata Hubungan Masyarakat Pertama dan suami mendaftar formasi Analis Kerja Sama. Singkat cerita, dengan persiapan selama beberapa bulan, seperti mengurus berkas administrasi dan lainnya, Saya mempelajari soal-soal seleksi CPNS pada buku yang saya beli di toko Buku. Saat tes seleksi I (Seleksi Kemamuan Dasar/SKD) saya dalam kondisi hamil 5 bulan. Setiap hari di sela-sela jam berkerja dan sebelum tidur malam saya mempelajari soal-soal seleksi CPNS,” cerita Ratna Dewi haru.

Ratna Dewi bersama suami saat pengambilan sumpah pegawai di BKN. (foto : dok)

Saat pengumuman SKD, Ratna dan suami mendapat ranking 1 pada formasi yang keduanya daftar. Lalu tes berlanjut ke tahapan seleksi berikutnya yakni Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) dan wawancara. Pada tahap wawancara, dengan background Pendidikan S1 Sastra Inggris, Pejabat yang mewawancaranya saat itu mengetes kemampuan Bahasa Inggrisnya. Selama wawancara berlangsung ia menggunakan Bahasa Inggris aktif dan hal ini membuat Ratna mendapat nilai diatas 90 (salah satu yang tertinggi pada seleksi saat itu). Happy Ending, perjuangan Ratna Dewi dan suami tidak sia-sia. Keduanya diterima sebagai ASN BKN di unit berbeda. BKN pun heboh, karena dalam seleksi calon ASN 2018, ada seorang pasangan suami istri diterima yaitu Ratna Dewi dan M. Ario Susanto.

“Saya sangat berterima kasih dengan dosen-dosen Teknokrat yang sudah mengajarkan saya sehingga saya fasih berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Saat pengumuman penerimaan PNS pun nama saya tetap berada pada urutan 1 dan mendapatkan formasi yang saya lamar,” ujar Ratna.

Bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia yang sedang menempuh pendidikan, Ratna Dewi memberi semangat, bahwa ilmu yang didapat selama masa kuliah sangat bermanfaat ketika kita memasuki dunia kerja. Dan pengalaman berorganisasi selama kuliah pun membuat dirinya menjadi orang yang aktif berkomunikasi dan bergaul dengan teman-teman kerja. (W9-jam)

Biodata Singkat Ratna Dewi :
Nama : Ratna Dewi, S.S., M.Si.
TTL : Bandar Lampung, 08 Desember 1990
Asal : Bandar Lampung
Anak ke 3 dari 3 bersaudara
Alamat tinggal saat ini : Kota Bekasi
Riwayat Pendidikan : S1 Sastra Inggris Perguruan Tinggi Teknokrat (2008-2013) lulus dengan Predikat Cum Laude IPK (3.72) dan meraih predikat Wisudawati terbaik II
S2 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (2016-2018), IPK (3.55).
Organisasi Ketika Kuliah: Teknokrat English Club (TEC) dan UKM Duta Teknokrat
Prestasi Lomba :
Juara II Lomba Scrabble (2010)
Juara I Putri STBA Teknokrat (2010)
Pernah mengikuti Lomba Cerdas Cermat Bahasa Inggris ALSA (Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2011)
Pernah Mengikuti Lomba Muli Mekhanai (2011). (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed