oleh

Seminar Internasional Universitas Teknokrat, Perguruan Tinggi Harus Bekali Mahasiswa dengan Keterampilan

Bandarlampung, Warta9.com – Dua pakar dari Universiti Sains Malaysia (USM) Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh dan Dr. Shahir Akram Hassan serta Dr. H. Didin Muhafidin, S.IP, M.Si (Rektor of Al-Ghifari University Bandung), tapil dalam Seminar Internasional tentang perkembangan ekonomi (Internasional Seminar on Economic Development), di Gelanggang Mahasiswa Dr. HM. Nasrullah Yusuf, Selasa (21/1/2020).

Seminar mengangkat tema “Dampak Era Digital Terhadap Perkembangan Sosial dan Ekonomi” (The Impact of Digital Era on Social and Economic Development), dibuka oleh Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. HM. Nasrullah Yusuf, SE, MBA.

Dalam seminar yang diikuti dosen, mahasiswa dan pelajar ini, para pembicara mengupas tantangan yang dihadapi di era revolusi industri 4.0, bertindak moderator Akhyar Rido, Ph.D.

Menurut para pakar, tantangan dalam industri revolusi 4.0 adalah dengan hadirnya artificial intellegence yang dapat menggantikan fungsi manusia. Sehingga akan timbul banyak pengangguran. Oleh karena itu, universitas harus membekali mahasiswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia industri seperti kreatif, inovatif, dan lain-lain.

Namun itu tidak cukup, mahasiswa harus dilengkapi dengan pengetahuan akidah akhlak, syariah yang baik. Mahasiswa juga harus memiliki kemampuan wirausaha agar dapat membuka lapangan pekerjaan. Dengan begitu akan dihasilkan lulusan yang berdaya saing.

Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh, dari Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia, mengangkat soal “Konsekuensi dari era digital” (Consequences of Digital Era).

Konsekuensi dari era digital kata Muhammad Syukri, Kecerdasan Buatan, Revolusi Industri 4 yang kemudian terjadi Globalisasi lalu waktu postnormal. Bahkan dia mencontohkan sekarang ada robot yang menyerupai manusia, tapi bentuknya perempuan. Robot itu bernama Sofia dijadikan istri.

Prof Syukri menjelaskan, dengan kemajuan Teknologi banyak warga negara ketiga terkena dampaknya. Karena nantinya terjadi pengangguran akibat industri menggunakan robot atau teknologi. Dengan era digital manusia menjadi kalangkabut. “Ada tiga hari masa depan yang biasa kita hadapi yaitu; masa kini, masa depan dan masa depan yang tidak bisa kita pikirkan,” ujar Prof. Syukri.

Sementara itu, Dr. Shahir Akram Hassan (Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia (USM), membahas tentang “Menghadapi Era 4.0, dengan membangun management Pengembangan Islam. (Facing IR4.0 with Islamic Development Management).

Sedangkan Dr. H. Didin Muhafidin, MSi, memaparkan semangat kewirausahaan dalam menghadapi era digital dan perkembangan suatu negara (entreprenuerial spirit in facing the digital era and the development of a country)

Didin mengatakab, bahwa perbedaan antara negara berkembang (negara miskin) dan negara maju (negara kaya) tidak tergantung pada usia negara itu.

Dia memberi contoh seperti India dan Mesir, yang berusia lebih dari 2000 tahun, tetapi negara-negara ini masih terbelakang (miskin).

Di sisi lain beberapa negara seperti; Singapura, Kanada, Australia dan Selandia Baru adalah negara yang berusia kurang dari 150 tahun dalam mengembangkan negara mereka. Tapi sekarang, negara tersebut termasuk dalam kelompok negara maju di dunia dan jumlah penduduk miskinya tidak banyak.

Lalu apa yang membedakan? Perbedaannya terletak pada sikap/perilaku orang-orang yang telah terbentuk secara bertahap dan terus menerus baik dari sosial budaya dan pendidikan. (W9-jam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed