oleh

Menyeka Air Mata Suraji Yang Hidup di Kandang Kambing

PRIA kurus itu bernama Suraji (45). Sudah bertahun- tahun lamanya ia tinggal seorang diri di dalam gubuk bekas kandang kambing berukuran 2×3 meter².

Rumah Suraji di Dusun 2 Kampung Umpu Bhakti, Kecamatan Blambangan Umpu Waykanan hanya dilapisi kayu dan anyaman bambu yang sudah bolong di sana-sini. Atap asbes campur seng tak mampu melindungi Suraji dari hujan dan dingin.

Sehari harinya bekerja menjadi pengumpul rongsokan. “Ngumpulin rongsokan mas di sekitar sinilah, gak kuat keluar kampung lain. Hasilnya cukuplah untuk makan walau sering hasil penjualannya tak cukup 70 ribu seminggu,” cerita Suraji pagi itu.

Atap rumah itu tingginya kurang dari 2 meter, berlantai tanah tanpa perabotan sama sekali, hanya tempat tidur tanpa kasur dan alat masak. Menurut Suraji rumahnya bocor di mana mana, hanya tempat tidur satu satunya yang tak bocor.

Kandang kambing peninggalan orang tuanya ini disulap menjadi tempat tinggal darurat. Terletak di belakang rumah salah seorang penduduk setempat. Walau jauh dari layak jorok, bocor dan becek tapi dia tak ada pilihan. Bantuan bedah rumah tak dapat, mungkin tidak masuk kriteria.

Tetangga depan sekitarnya ramah ramah mereka menemani saya mengunjungi Suraji. Kata mereka Suraji orang yang baik dan tidak banyak neko neko. Karena lelah berdiri setelah menyalami nya saya pamit melanjutkan perjalanan.

Cukup jauh dari rumah Suraji saya singgah juga di rumah Mbah Suratman, warga dusun 3 kampung yang sama. Pasangan suami istri ini tak kalah memilukan, mbah Suratman lumpuh hanya tergolek di tempat tidur sejak 17 tahun yang lalu, tubuhnya kurus kerempeng, suaranya terbata bata. Istrinya mbah perempuan juga sama sepuhnya usia mereka berdua 75 tahun.

Dengan tubuh terbungkok bungkok mbah perempuan berjalan menemani saya keliling rumah sambil berkisah.

“Kami berdua sudah belasan tahun hidup berdua, Mbah laki sakit lumpuh kadang kadang saya gendong klo dia minta pindah ke amben ini. Makanya tak lebih dari 5 sendok nasi bubur setiap harinya, lebih dari itu tak ada lagi yang dimakannya,” ujar Mbah perempuan.

Karena tidak bisa bekerja makan sehari hari mereka tanpa lauk dengan beras raskin yang rutin diterima nya. Sehari beras yang dimasak tidak lebih dari secanting Alhamdulillah kemarin dapat amplop dan beras dari pak bupati yang diantar dia langsung, katanya.

Anak anaknya sama susahnya mereka hanya cukup memenuhi kebutuhan mereka sendiri, saya tak boleh mengeluh dan menyusahkan mereka katanya. Tempat tinggal si Mbah memang lebih baik dibandingkan dengan tempat tinggal Suraji tak kesulitannya luar biasa, selain harus mengurus suaminya yang lumpuh, tubuh renta si Mbah tanpa penghasilan sama sekali. PKH dan yang lainnya dia tidak terima kecuali raskin.

Setelah sekedar meninggalkan sesuatu untuk beli gula dan garam saya lanjut ke dusun 1 kampung setempat. Menemui sepasang ibu dan anak cacat yang hidup berdua menjalani hidup tak kalah beratnya.

Rosyati nenek sepuh berusia di atas 75 tahun dan anaknya yang cacat Rasimin 35 th tinggal digubuk lantai tanah yang dindingnya papan dipaku jarang jarang. Mereka sama dengan dua yang saya kunjungi sebelumnya, tidak dapat PKH tak dapat bedah rumah namun masih bersyukur dapat beras raskin.

Kemarin Sabtu, 2 Mei 2020 saya menemani bupati Waykanan Hi. Raden Adipati Surya menyantuni mereka. Hari ini Minggu 3 Mei 2020 saya sambangi kembali karena rasanya belum puas ngobrol dengan mereka kemarin.

Hari Minggu ini Suratmin tidak ada di rumah menurut ibunya dia berangkat kerja seperti biasanya. Mendulang emas di sungai Betih betih yang jaraknya 3 kilometer dari rumah mereka. Terbayang oleh saya orang yang cacat yang jalannya saja tak normal harus menempuh 6 kilometer jalan kaki, kondisi licin tanjakan dan turunan.

Dia berangkat pagi pulang sore mendulang di sungai yang keruh hanya untuk mendapatkan tak lebih dari 50 miligram emas kotor. Jika di jual tak lebih dari 25 ribu rupiah.

“Anakku cacat sejak usia kurang dari 10 tahun, jatuh dari bangunan pos ronda, lalu di serang panas tinggi karena tangannya patah. Tetapi lama kelamaan kakinya juga ikut pincang. Sekarang lagi cari emas pak! Berangkat tadi pagi, nanti sore pulang. Kasihan sebenarnya Mbah ini sebab jalannya licin dan jauh 3 kilometer dari sini sedang dia cacat jalannya saja pincang miring seperti itu,” kata Mbah Rosyati.

Menurut PJ Kepala Kampung Umpu Bhakti Edward Apriadi, di Kantor Kepala Kampung Umpu Bhakti, Minggu, 3 Mei 2020. Mereka bertiga diantara 20 orang khusus jompo yang mendapat santunan dari bupati Waykanan kemarin. Mereka memang tidak dapat PKH dan Bantuan Tunai dari pusat, tapi mereka prioritas yang akan mendapat BLT dana desa.

Menurut bupati Waykanan via WhatsApp, bantuan beras dan uang tunai yang dia bagikan kemarin, merupakan bagian dari kegiatannya yang sudah dilakoninya sejak 11 tahun yang lalu.

Bantuan ini menggunakan uang pribadi, jika dahulu santunan untuk jompo ini dibagikan ketika acara safari ramadhan dibantu oleh pengurus partai Demokrat dan KNPI Waykanan karena dia Ketua DPC Partai Demokrat dan Ketua DPD KNPI Waykanan. Kali ini karena ada pandemic santunan ini diberikan door to door.

Penulis: Joeanda Ariyanto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed