Jembrana, Warta9.com – Warga muslim khususnya di Kabupaten Jembrana mempunyai kebiasaan tradisi “ninjau” atau mengantar jamaah haji merupakan momen unik yang dilakukan turun temurun, dan ditunggu-tunggu masyarakat.
Unik dari tradisi ini, setelah jamaah calon haji Kabupaten Jembrana diberangkatkan menuju Surabaya- Jawa Timur, masyarakat melanjutkan perjalanannya ke tempat-tempat rekreasi bersama keluarganya.
“Iring-iringan pengantar jamaah calon haji bisa sampai ke asrama haji di Sukolilo, Jawa Timur, setelah jamaah masuk, pengantar melanjutkan rekreasi di kota itu. Tapi sekarang paling jauh sampai di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bahkan sebagian besar hanya sampai di pelabuhan Gilimanuk,” ujar Husaini, warga jembrana saat di jumpai awak media.
Karena sudah menjadi tradisi, saat hari “ninjau haji” dipastikan anak-anak yang bersekolah libur karna bertepatan Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi umat Hindu, termasuk pekerja informal seperti anak buah perahu di Desa Pengambengan.
Dari sisi sejarah, Husaini menduga, tradisi ini merupakan sambungan dari kebiasaan masyarakat tempo dulu, saat mengantar jamaah haji lewat jalur laut di muara Desa Perancak.
Ia menuturkan, jaman itu, jamaah calon haji berangkat dari muara tersebut, dengan diiringi tangis kerabat serta tetangganya, sehingga lokasi tempat bersandarnya perahu kayu untuk mengangkut jamaah haji ke Arab Saudi, disebut Tanjung Tangis.
“Untuk menunaikan ibadah haji, jamaah harus menempuh perjalanan di laut dengan menggunakan perahu kayu sekitar enam bulan. Tangisan dari kerabat dan tetangga itu, karena belum tentu jamaah ini selamat sampai tujuan,” ujarnya.
Di era modern dengan pesawat terbang sebagai transportasi mengangkut jamaah ke tanah suci, menurutnya, tradisi mengantar tersebut masih bertahan, tapi dalam bentuk yang lain.
Tangisan saat keberangkatan jamaah, diganti dengan turut bergembira karena ada kerabat atau tetangganya yang mampu menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Di sisi lain, dari pantauan Warta9.com, hari “ninjau” haji juga ditunggu-tunggu oleh pedagang di sentra kuliner seputaran Gilimanuk hingga kawasan wisata Kabupaten Buleleng. Karena biasanya saat berangkat dan pulang dari tempat wisata, masyarakat mampir ke tempat mereka untuk makan dan berbelanja. (W9-agus)











