Metro, Warta9.com – Lima ribuan santri, siswa sekolah dan kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam berbagai Badan Otonom (NU) se-Kota Metro mengikuti Kirap Nasional/karnaval dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2019, Senin (21-10-201).
Ribuan santri yang mengikuti kirap yang dilepas Ketua Cabang NU Kota Metro, KH Ali Qomarudin itu menempuh jarak sekitar 3.5 Km yang mengambil star di depan Rumah Dinas Wali Kota Metro dan finis di lapangan 24 Tejosari Kecamatan Metro Timur.
Kirap yang membuat suasana haru mengenang buah perjuangan Hadratus Syeach KH Hasyim As’ari yang sangat fenomenal yang mampu menggelorakan semangat para santri untuk berjuang menumpas penjajahan Belanda itu selain dihaduri Ketua Cabang NU Metro juga dihadiri Wakil Wali Kota Metro, Djohan, Ketua LP Ma’arif Metro, Ismail, Rektor IAIM Metro, Mispani Ramli, dan seluruh Pengasuh Pondok Pesantren yang ada di Kota Metro serta kader-kader inti NU.
Dalam sambuatannya, KH Ali Qomarudin yang juga pengasuh Pondok Pesantren Roudlatul Qur’an Mulyojati Kecamatan Metro Barat itu menyampaikan doa dan harapannya agar yang jihad yang dilakukan para santri ini semua mendapatkan ridho Allah SWT dan bisa mengenang dan meneladani perjuangan KH Hasyim As’ari yang perjuangannya bisa dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.
Dalam kesempatan itu, KH Ali Qomarudin menyampaikan sejarah lahirnya resolusi jihad yang berawal dengan kedatangan Presiden Soekarno yang sowan atau menghadap kepada KH Hasyim As’ari terkait kondisi genting yang dihadapi bangsa Indonesia akibat agresi militer yang dilakukan sekutu Belanda dan Inggris yang ingin kembali menjajah bangsa Indonesia yang baru mendeklasikan kemwrdekaannya.
“Saya sangat mencintai NU dan membanggakan NU,” katanya menirukan ucapan Soekarno.
Kenapa Presiden Soekarna mencintai dan membanggakan NU, tanyanya, sebab saat negara dalam keadaan genting Soekarna sowan kepada KH Hasim As’ari, mintak fatwa maka muncul resolusi jihad yang mampu menggelorakan semangat perjuangan para santri dan seluruh rakyat Indonesia mengusir penjajah dan pecahlah pertempuran 10 November 1945 yang sampai saat ini diperingati sebagai hari pahlawan.
Namun, tambanya, fatwa resolusi jihad yang disampaikan KH Hasyim As’ari itu nyaris tidak terdengar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia akibat kurangnya perhatian Pemerintah saat itu dan era Presiden Joko Widodo resolusi jihad itu diakui oleh negara sejak ditetapkan tanggal 22 Oktober 2015 lalu disahkan menjadi HSN.
Resolusi Jihad NU adalah salah satu bukti bahwa Umat Islam Indonesia selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanpa adanya Resolusi Jihad NU ini, mungkin kita masih terjajah oleh Sekutu yang saat itu ingin kembali menguasai Indonesia setelah sukses mengalahkan Jepang dalam perang dunia II.
Dengan adanya Resolusi Jihad NU tersebut, Umat Islam menjadi terbakar semangatnya untuk berperang karena selain tak ingin kembali terjajah oleh Belanda, mereka juga merindukan mati syahid yang sudah dijanjikan akan memperoleh jaminan masuk surga oleh Allah Swt.
“Hari Santri ini merupakan kado terindah bagi warga NU dan bangsa Indonesia, ini bentuk pengakuan Pemerintah terhadap perjuangan kaum santri yang selama ini kurang mendapat perhatian dari Pemerintah”, tutupnya seraya melepas dengan bacaan umul kitab Alfathehah. (W9-joko)











