Salut! Sembuh Dari ‘Lumpuh’, Kakek Lubis Bayar Nazar Jalan Kaki Dari Medan ke Papua

Kakek Fahrizal Lubis ketika bersilaturahmi di Polres Lampung Utara. (doc/warta9.com)

SEORANG kakek bernama Fahrizal Lubis, berusia 60 tahun yang viral di berbagai flatform sosial media karena menebus nazar berjalan kaki dari kota Medan ke Papua kini tiba di Kabupaten Lampung Utara, Lampung.

Warga asal Tapanuli Selatan, Sumatera Utara itu, memiliki target 12 bulan mengelilingi pulau Sumatera. Tibanya di Kotabumi, Lampung Utara adalah bulan ke-10. Ia memiliki estimasi waktu 3 pekan untuk singgah ke Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Lampung.

Perjalanan dimulai pada 10 April 2021 lalu, usai Kakek Lubis dinyatakan sembuh dari lumpuh total selama dua tahun tiga bulan. Dengan memanggul tas di bahu yang bertuliskan ‘Bayar Nazar Ke Papua NTT dari Medan 10 April 2021’, kakek Lubis tiada henti mengukur jalan.

Lumpuh total yang dialami Kakek Lubis disebabkan oleh tragedi kecelakaan di Tol Cipali, Jawa Barat pada 2018 lalu. Kala itu, Kakek Lubis mengalami koma selama delapan hari.

“Saya koma selama delapan hari. Alhamdulilah saya kuat melewatinya. Setelah sadar dari koma, saya divonis oleh dokter mengalami kelumpuhan total dengan jangka panjang atau seumur hidup,” ungkap Kakek Lubis saat bersilaturahmi di Polres Lampung Utara, Rabu (23/02/2022).

Foto : Catatan Jurnalis.

Ia bercerita, kecelakaan dua tahun silam itu merenggut nyawa istri dan anak bungsunya. Aksi berjalan kaki dari Medan ke Papua merupakan ungkapan rasa syukur karena dapat kembali berjalan pasca mengalami kelumpuhan.

“Jadi bayar nazar bukan keliling Indonesia, tujuannya menemui anak dan cucu saya. Yang merestui bayar nazar ini adalah diri sendiri dan keluarga,” tutur Lubis.

Pesiunan sopir Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu itu juga mengaku sepanjang perjalanan selalu mengumpulkan masker bekas kemudian dibakar. Untuk memenuhi kesehariannya, Lubis kerap bekerja serabutan. Terkadang ada dermawan yang memberikan bantuan berupa uang kepadanya.

“Saya bicara kepada anak-anak saya bahwa tidak butuh perlindungan, yang saya perlukan hanya do’a. Seringkali merasakan sakit dijalan, jika sepekan berjalan betis ini keras,” imbuhnya secara tersenyum.

Berbekal sajadah, sarung, selimut, pakaian serta identitas diri Kakek Lubis terus berjalan mengarungi aspal menuju Papua.

Aksi diluar nalar akal sehat yang dilakukan Kakek Lubis itu patut menjadi contoh. ‘Janji adalah hutang’, prinsip seorang kakek berkomitmen dengan janji, baik dengan orang lain maupun diri kita sendiri.

Penulis : Resi Is Junanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses