Bandarlampung, Warta9.com – Yamin Thohir hadir menjadi saksi untuk ketiga terdakwa suap fee proyek di Kabupaten Lampung Utara (Lampura). Yamin Thohir mantan tenaga ahli Bupati Nonaktif Lampura mengakui bahwa dirinya merupakan paman kandung dari Agung dan juga sebagai Ketua Koordinator Pemenangan.
“Dia ini ponakan saya, karena darah saya mengalir didirinya jadi saya harus bela dia.Saya ini koordinator tim sukses. Tim suksesnya di periode pertama dan kedua saya yang paling aktif,” ujarnya di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Bandarlampung, Rabu (13/5/2020).
Lanjutnya , selain dirinya yang menjadi sebagai koordinator tim sukses dibawahnya ada lagi Tohir Hasyim selaku sekretarisnya. “Selain sebagai sekretaris pemenangan, Tohir ini juga dulunya sebagai kontraktor,” ucapnya.
Lalu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ikhsan Fernandi bertanya ke dirinya apakah kenal juga dengan Taufik Hidayat. “Kalau Taufik itu apa jabatannya di bagian struktur pemenangan Agung,” tanya Ikhsan.
Mendengar pertanyaan itu, mantan calon legislatif ini menjelaskan bahwa Taufik Hidayat saudara angkat dari Agung. “Taufik ini ya memang sering ngawal Agung dimana pun waktu itu dia berkampanye, yang mana pekerjaan Taufik ini pertama kali sebagai PNS di Kabupaten Waykanan, lalu pindah ke Lampura menjadi Kabid Mutasi setelah itu mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota Metro dan beliau mengundurkan diri dari PNS,” ucapnya.
Selain itu, JPU KPK Ikhsan Fernandi pun bertanya lagi ke Yamin Thohir apakah dirinya juga mengetahui bahwa para relawan-relawan yang dulunya berjasa memenangkan Agung di Pilkada 2013 mendapatkan proyek setelah Agung duduk menjadi Bupati Lampura. “Anda tahu kalau para relawan ini diberi proyek oleh Taufik Hidayat karena sudah berjasa memenangkan Agung,” tanya Ikhsan lagi.
Mendapati pertanyaan itu, dirinya pun mengakui bahwa tidak mengetahui terkait pemberian-pemberian sejumlah proyek ke para relawan. “Saya enggak mengetahui itu. Tetapi, saya hanya tahu waktu itu Tohir Hasyim yang mendapatkan proyek itu saya hanya dengar saja, beliau juga enggak pernah melapor terkait dia dapat proyek. Saya juga enggak tahu bagaimana cara mendapat proyek,” tuturnya.
Dirinya juga tidak ingin ikut campur mengenai para relawan tersebut mendapatkan proyek atau tidak. “Dan apalagi terkait Taufik mendapatkan proyek yang jelas sekali lagi saya juga enggak tahu. Kalau infonya itu (dia dapat proyek, red) ada memang, itu saya dapat info dari kawan-kawan dari luar. Saya hanya mengamankan Agung saja,” jelasnya.
Menurutnya dirinya sebagai latar belakang orang politik selalu menampung informasi mengenai adanya pembagian proyek. Tetapi dirinya juga tidak mendapatkan info yang jelas. “Yang saya dengar dari si A dan B disana itu memang ada yang menerima proyek, saya ininorang politik, dan saya selalu kalau orang bicara saya tampung, kalau enggak bicara saya pancing, saya lakukan itu karena demi untuk mengamankan ponakan saya (Agung, red), bagaimana caranya apapun itu saya harus mengamankan beliau ini,” bebernya.
Dan dirinya pun menegaskan lagi bahwa tidak pernah untuk mencampuri urusan dari Taufik. “Ya itu kalau sampai membahayakan Agung saya antisipasi. Contohnya gara-gara mereka orang bagi proyek lalundi demonstrasi saya harus turun untuk meredamkan. Memang saat lelang sudah ribut. Kalau ada yang demo ke Agung saya antisipasi kebawah kadang berhasil kadang enggak berhasil,” katanya.
Lalu JPU KPK Ikhsan pun bertanya lagi, apakah dirinya pernah mendengarkan dari Taufik dan Syahbudin pembagian pekerjaan untuk tim sukses. “Pernah melapor tidak mereka ini ke anda,” tanya Ikhsan. “Saya juga enggak pernah nanya lebih jauh saya enggak mau pusing, sekedar tahu saja saya. Saya juga enggak pernah mencari untung dari keponakan saya, termasuk uang fee,” pungkasnya. (W9-ars)










