Penyair Lampung Zabidi Yakub Dapat Kehormatan Menghadiri Peluncuran Semesta Ingatan

Zabidi Yacub penyair Lampung menghadiri peluncuran buku antologi puisi Semesta Ingatan: Trauma dan Imaji Kebebasan dalam Temu Karya Serumpun 2025. (foto : ist)

Jember, Warta9.com – Penyair Lampung Zabidi Yakub mendapat penghatmatan menghadiri peluncuran buku Antologi Puisi Semesta Ingatan: Trauma dan Imaji Kebebasan dalam Temu Karya Serumpun 2025 di Jember Jawa Timur.

Acara yang dihelat Forum Sastra Timur Jawa bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, berlangsung dua hari, Sabtu dan Minggu, 25–26 Oktober 2025.

banner 728x90*

Hari pertama diisi dengan peluncuran buku antologi puisi setebal xxxvi+556 hlm. menghimpun 370 puisi karya 253 penyair yang karyanya lolos kurasi dari 1.146 karya 380 penyair serumpun, meliputi negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste.

Yayasan Sastra Timur Jawa didirikan tahun 2005, menaungi Forum Sastra Timur Jawa, pada mulanya aktif menyelenggarakan Temu Karya Serumpun daerah “tapal kuda” lalu meluaskan sasaran pada penyair Tanah Air dan negara tetangga Asia. Tahun 2025 ini melibatkan penyair Timor Leste yang selama ini terkesan seolah ditinggalkan.

Acara dibuka oleh Prof. Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd. yang baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar Sastra Universitas Jember, dilanjutkan ungkapan tentang trauma sebagai sumber imaji dalam berkarya serta geliat komunitas sastra daerah masing-masing.

Abas Abdullah mahasiswa Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jember asal Pattani, Thailand Selatan, membincang penulis puisi di Pattani banyak terpengaruh puisi Indonesia.
Muhammad Asqalani eNeSTe dari Riau menyingkap trauma masa kecilnya yang pada akhirnya bisa ia eksplor menjadi puisi. Begitu pun Yogira Yogaswara, Faidi Rizal Alif dari Sumenep, dan Nurul Ludfia Rochmah dari Banyuwangi berkisah geliat komunitas di Blambangan.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh penyair perempuan. Mereka yang tampil Adziah Abdul Azis dari Malaysia, Ibna Asnawi dari Sumenep, Lily Siti Multituliana dari Jakarta, Ratih Ayu Puspitasari dari Solo, dan kolaborasi Asqalani, istri, dan putri kecilnya dengan aksi teaterikal yang memukau.

Kegiatan yang berlangsung di area glamping Seger Nusantara, agak beruntung peserta perempuan ditempatkan di barak. Sedikit sial peserta laki-laki yang menempati puluhan tenda, walau sempat dibercandai hujan, tapi dingin cuaca tak membuat beku semangat mereka mengikuti acara bedah buku oleh kurator dan narasumber, yaitu Akhmad Taufiq, Acep Zamzam Noor, Mashuri dari BRIN, dan Adziah Abdul Azis dari Malaysia dan ditutup pembacaan puisi oleh penyair laki-laki.

Hari kedua, Sabtu (26/10), acara dilanjutkan diskusi pakar di Museum Tembakau, menampilkan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang dan Okky Madasari, Ph.D. sastrawan dan sosiolog yang melahirkan banyak karya sastra dan peraih penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Buku-buku yang sudah ditulis Okky Madasari mengangkat isu sosial yang kental dengan trauma. Dua buku terbaru Okky yang terbit Oktober 2025 ini, adalah “Kita Adalah Jelata” 100 Sajak dan “Wawasan Kebangsatan” berisi 80 catatan. (W9-jm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses