Tulang Bawang, Warta9.com – Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kabupaten Tulang Bawang menyerukan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang agar masyarakat adat dilibatkan lebih aktif dalam pembangunan daerah, khususnya dalam pengembangan Sumber Daya Masyarakat Adat (SMA).
Ketua MPAL Tulang Bawang, Saidi Efendi Gelar Stan Pedokow Modow, menegaskan bahwa percepatan pembangunan daerah tidak dapat dilepaskan dari konsep budaya dan kearifan lokal, terutama adat istiadat Megou Pak Tulang Bawang yang menjadi jati diri daerah Sai Bumi Nengah Nyapur.
“Pemkab perlu memperhatikan kehidupan masyarakat melalui adat dan budayanya yang kini semakin terkikis rasa peduli dan kebanggaannya. Jangan sampai adat dan budaya hanya dipakai ketika ada acara seremonial, lalu dilupakan,” tegas Saidi Efendi melalui pesan di grup WhatsApp MPAL, Kamis (4/9/2025).
Ia juga menyoroti renggangnya hubungan batin antara masyarakat adat dan Pemkab. Menurutnya, kesibukan birokrasi kerap membuat pemerintah daerah kurang transparan dalam arah pembangunan.
Lebih lanjut, MPAL mengharapkan Pemkab berupaya menumbuhkan kembali kepedulian dan keterikatan emosional masyarakat terhadap pemerintah. “Jika masyarakat dan pemerintah bergandengan tangan, maka kecintaan terhadap daerah tidak akan mudah tergoyahkan,” ujarnya.
Selain soal adat, Saidi juga menyinggung masalah ekonomi rakyat. Ia menilai harga bahan pokok di pasaran masih belum seimbang dengan kondisi ekonomi masyarakat, sehingga perlu segera dibenahi.
Tak kalah penting, ia menekankan tuntutan masyarakat terkait ukur ulang lahan PT Sweet Indo Lampung (SIL). Menurutnya, kepastian luas resmi lahan harus diperjuangkan, dan Pemkab harus tampil di depan membela kepentingan rakyat.
“Pemerintah harus berani mengambil sikap dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat, baik soal harga pasar maupun sengketa lahan di PT SIL,” kata Saidi.
Menutup pernyataannya, ia berharap Pemkab lebih terbuka dalam membangun komunikasi dengan masyarakat, tidak hanya lewat acara formal.
“Alangkah baiknya jika ada ruang diskusi positif sambil ngopi bareng, makan kue khas Lampung. Dari situ akan lahir informasi yang akurat dan solusi yang lebih dekat dengan rakyat,” pungkasnya. (W9-Wan)


*








