Bandarlampung, Warta9.com – Tiga pakar dari luar negeri menjadi pembicara utama dalam Internasional Conference, yang digelar Fakuktas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Raden Lampung, di Hotel Emersia Bandarlampung, Sabtu (9/11/2018).
Tiga pakar yang memberi materi dalan Internasional Conference yaitu, Prof. Hisanori KATO, Ph.D (Chuo University Jepang), Prof. Dr. Muhammad Haseeh (Taylors University Malaysia) dan Prof. Dr. Sukree Langputeh (Fatoni University Thailand).
Profesor dari Chuo University Jepang, Hisanori KATO, Ph.D, mengatakan, bahwa perubahan dan kemajuan teknologi tidak bisa dihindari oleh masyarakat dunia termasuk Indonesia.
Banyak orang sekarang sudah menjadi korban atau ketergantungan teknologi, karenanya teknologi tetap harus bersandar pada kemanusiaan. Bila tidak, maka akan terjadi evolusi bahkan revolusi ilmu pengetahuan karena tidak membawa kemajuan orang yang nyata dan berharga.
Hal itu dikatakan Prof. Hisanori, pada Internasional Conference Fakuktas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Raden Lampung, di Hotel Emersia Bandarlampung, Sabtu (9/11/2018).
Internasional Conference yang diikuti para dosen dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia dan mahasiswa ini, mengambil tema, Young Scholar Symposium on Transdiciplinary in Education and Environment (YSSTEE).
Sebelum mamaparkan berbagai persoalan yang perlu disikapi para pendidik, Prof. Hisanori memaparkan seven social sins atau tujuh dosa sosial, mengutip gagasan Mahatma Gandhi, pemimpin sepiritual dan tokoh politik India.
Tujuh dosa sosial yang perlu menjadi pelajaran yaitu :
1. Politics without principles. (Politik tanpa prinsip). Orang berpolitik dengan segala cara dilakukan untuk kepentingan diri mereka sendiri dan demi meraih kekuasaan.
2. Wealth without work (kekayaan tanpa kerja). Ingin menjadi orang kaya tidak mau bekerja.
3. Pleasure without conscience (Kesenangan tanpa kesadaran). Orang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Ini contoh dari korupsi.
4. Knowledge without character (Pengetahuan tanpa karakter). Para cendekia membebek pada kepentingan penguasa dan tidak lagi memperhatikan moralitas dan kebenaran.
5. Commerce without morality (Perdagangan tanpa moralitas). Dimana pedagang/pebisnis tidak memikirkan moralitas, dan lebih mementingkan keuntungan dan keuntungan. Mereka tidak peduli terhadap nasib masyarakat.
6. Science without humanity (Ilmu tanpa kemanusiaan). Para ilmuwan sibuk membincangkan norma ilmiah namun melupakan manusia yang harusnya menjadi dasar dari penegakkan ilmu.
7. Worship without sacrifice (Ibadah tanpa pengorbanan). Orang-orang yang beragama tak peduli pada pengorbanan diri untuk mensucikan hati, dan lupa pada prinsip-prinsip spiritualitas agama. Tapi menurut Prof. Hisanori, yang bisa berbahasa Indonesia ini, Agama Islam sangat baik dan menghargai pemeluk lain.
Prof. Hisanori juga telah melakukan penelitian model kepemimpinan Indonesia mulai dari Presiden kedua Soeharto hingga masa kepemimpinan Gus Dur dan kepemimpinan era sekarang.
Para pakar dan ahli lokal yang tampil antara lain, Dr. Abdurrahman, MSi (Universitas Lampung), Prof. Dr. Ganefri, Ph.D (Universitas Negeri Padang), Rektor ITERA Prof. Ir. Ofyar Z. Tamin, MSc (Eng), Ph.D dan Dekan FKIP Unila Prof. Dr. Patuan Raja, MPd. (W9-jam)









