Bandarlampung, Warta9.com – Pendidikan tinggi harus diisi dan didesain untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Sebab, revolusi industri dengan derasnya era digital tidak bisa dihindari.
Demikian dikatakan, Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr Ravik Karsidi, MS, dalam seminar Nasional di kampus Universitas Teknokrat Indonesia, Sabtu (22/12/2018).
Menurut Prof. Ravik, peran perguruan tinggi menghadapi revolusi industri, bagaimana mengembangkan kecakapan-kecakapan mahasiswa. “Perguruan tinggi, dosen jangan lambat menghadapi era digital dan ini tidak bisa kita hindari,” ujar Prof. Ravik.
Meski era digital, perguruan tinggi jangan meninggalkan riset. Karena penelitian dan riset merupakan tokoh dari perguruan tinggi. Selain itu, perguruan tinggi juga dapat mengarahkan dan membetuk mahasiswanya jiwa enterpreneurship. Ini dapat dilakukan di semua program studi. Dengan demikian mahasiswa setelah menyelesaikan studinya bisa mengembangkan keahlian yang dimiliki dan memiliki sosial entreprenuership.
Selain melakukan riset, perguruan tinggi harus melakukan leterasi data. Dengan demikian, perguruan tinggi akan siap menghadapi era digital.
Prof. Ravik lalu mengutip pernyataan Alvin Tofler, yang memprediksi ada ancaman perubahan global. Perubahannya sangat cepat. Mau tidak mau, suka tidak suka perubahan yang menggelobal itu pasti datang dan tidak bisa dihindari.
Saat ini di Abad 21, telah mendobrak sumber konvensional ke sumber degital. Perilaku manusia ditentukan teknologi. “Inilah perubahan yang sangat cepat dan tidak bisa dihindari,” ujar Prof. Ravik.
Era global dan digital, dulu perkembangan teknologi sangat lambat. Tapi dari era revolusi 3.0 ke 4.0 perubahannya sangat cepat. Sehingga nantinya akan datang 5.0.
Pola pikir manusia sangat juga berubah. Dulu cara pikir dari luar untuk ke dalam sekarang dari dalam untuk keluar. Karena itu, lanjut Rektor, Pendidikan juga harus berubah. Nantinya kampus tidak perlu lebar. Dan nantinya kampus akan terdisrupsi.
“Makanya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi. Apa yang harus disiapkan untuk digital skill. Harus mempersiapkan dengan learning by doing. Kita akan menjadi apa yang anda pikirkan. Budaya digital yang mempengaruhi gaya hidup manusia,” ujar Rektor UNS ini.
Sementara itu, Rektor UNY Prof Dr. Rochmat Wahab, MPd, MA, mengatakan, bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat. Bahkan nantinya, setiap 24 jam akan terjadi perubahan. Bahwa revolusi industri tidak bisa dihindari.
“Apa yang harus kita miliki? Kita harus melek informasi, melek media. Jadi semua mahasiswa harus melek digital teknologi,” ujar Prof. Rochmat Wahab.
Dengan derasnya pengaruh digital teknologi, maka yang sangat penting bagi pendidik dan perguruan tinggi bagaimana membentuk moral yang kompeten. China, kata Prof Rochmat, merupakan negara komunis. Tapi, justru sekarang negara itu sudan meneladani moral. Sehingga Gogle pun tidak bisa sembarang masuk ke China.
Mahasiswa Teknokrat Harus Punya Kesadaran Kolektif
Sebagai bentuk implikasi teknologi, maka setiap mahasiswa Teknokrat harus berkompetisi dan improvisasi. Mahasiswa Teknokrat harus mempunyai kesadaran kolektif. “Malu mahasiswa tidak mempunyai prestasi. Prestasi mahasiswa harus menjadi modal untuk berkompetisi. Fastsbiqul khairat yaitu untuk melegitimasi kita sebagai orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan sehingga dipanggil Allah,” ujar Prof Rahmad.
Pemaparan kemajuan teknologi juga disampaikan oleh Prof. Dr. Akhmaloka, Rektor Universitas Pertamina. Mantan Rektor ITB ini menyampaikan banyak hal terkait kemajuan teknologi di negara Barat dan Eropa.
Pada kesempatan ini, juga dibuka kesempatan bagi mahasiswa untuk tanya jawab. Kesempatan yang langka ini dimanfaatkan oleh sejumlah mahasiswa untuk bertanya kepada tiga profesor juga menjabat rektor tersebut. (W9-jam)









