
Bandarlampung, Warta9.com – Mahasiswa baru (Maba) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), patut bangga karena baru proses masuk kuliah sudah mendapat pembekalan dan motivasi dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc.
Prof Iskhaq langsung berinteraksi dengan mahasiswa sehingga menjadi bekal istimewa bagi Maba untuk mengikuti pendidikan di UTI.
Kepala LLDikti Wilayah II menekankan pentingnya mahasiswa memahami perbedaan besar antara dunia sekolah dan dunia perkuliahan. Menurut Prof Iskhaq, dunia kampus menuntut mahasiswa untuk menjadi pribadi yang mandiri. Tidak selalu diatur waktu sebagaimana saat belajar di bangku sekolah.
“Bila di sekolah, semua aturan dibuat dan tinggal diikuti. Tapi di perguruan tinggi, mahasiswa harus mengatur dirinya sendiri. Mereka harus sadar ini adalah fase baru yang menuntut kemandirian,” kata Prof Iskhaq, dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Rabu (17/9/2025).
PKKMB UTI tahun 2025 betema “Mahasiswa Teknokrat Berdampak untuk Indonesia Emas”. Pembukaan PKKMB berlangsung meriah dengan nuansa budaya daerah.
Prof Iskhaq menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akademik dan kecerdasan non-akademik.
Prof Iskhaq menilai, mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan soft skills seperti kepemimpinan, negosiasi, kerja sama, dan berpikir kritis.
“Kalau hanya pintar di kelas, nilainya bagus, tapi setelah lulus bingung mau ngapain, ya itu karena tidak punya pengalaman. Semua kecerdasan non-akademik itu hanya bisa diasah melalui aktivitas di luar kelas, salah satunya lewat organisasi,” jelasnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa mahasiswa tidak punya waktu untuk aktif di luar akademik. Justru, berdasarkan perhitungannya, mahasiswa memiliki waktu luang sekitar 20–30 jam per minggu.
“Waktu itu bisa saja habis untuk rebahan atau main media sosial. Padahal kalau digunakan untuk kegiatan positif, itu akan membentuk karakter dan pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.
Kampus Berdampak
Terkait program Kampus Berdampak, Prof Iskhaq menjelaskan, hal ini merupakan lanjutan dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Jika MBKM fokus pada transformasi internal kampus, maka Kampus Berdampak mendorong kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap masyarakat.
“Yang ingin kita dorong sekarang adalah dampak sosial. Apa yang dikembangkan di kampus harus bisa menyentuh masyarakat. Dosen dan mahasiswa didorong untuk turun langsung ke lapangan, membawa manfaat dan solusi,” ujar Prof Iskhaq.
Dengan semangat ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara sosial, dan siap menjawab tantangan zaman. (W9-jm)










