
Nasrullah Yusuf menghadiri KPPTI di Surabaya. (foto : ist)
Surabaya, Warta9.com – Rektor Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Dr. HM Nasrullah Yusuf, SE, MBA dan Wakil Rektor Dr H Mahathir Muhammad, SE MM, menghadiri Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) atau Indonesia Higher Education Summit (IHES) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 19-21 November 2025.
Kegiatan ini diadakan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, dan Forum Rektor Indonesia, dibuka oleh Mendikti Saintek RI Prof. Brian Yuliarto.
Kegiatan ini menghadirkan para pakar, akademisi, dan praktisi pendidikan tinggi dari berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.
Rektor UTI Nasrullah Yusuf disambut hangat oleh Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. H. Nurhasan, M.Kes, Nasrullah juga terlibat diskusi Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA Menteri Pendidikan Nasional periode 2009-2014. juga bersama Prof. Dr. (HC) H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak., Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi periode 2014–2019.
Rektor UTI Nasrullah Yusuf juga mendampingi Rektor UNESA bersama Dirjen Dikti Prof. Khairul Munadi (batik biru) & Wakil ketua Komisi X DPR RI H. Lalu Hadrian Irfani. Rektor UTI juga berdiskusi dengan Rektor
Universitas Gadjah Mada
UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. & para pejabat penting lainnya.
KPPTI 2025 di UNESA yang dihadiri oleh 3.000 peserta mengambil tema ”Kampus Berdampak: Konsolidasi dan Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045”.
Forum konsolidasi nasional ini bertujuan menyelaraskan arah strategis pendidikan tinggi Indonesia untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
KPPTI 2025 mengangkat tema sentral “Kampus Berdampak: Konsolidasi dan Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045.”
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Prof. Khoirul Munadi mengatakan, KPPTI adalah ruang konsolidasi nasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS), perguruan tinggi kementerian/lembaga, hingga perguruan tinggi luar negeri (PTLN) yang beroperasi di Indonesia.
“Maksud dari konsolidasi ini, selain ada dialog dan berbagi praktik baik, yang paling penting adalah menyelaraskan arah strategis pendidikan tinggi kita menuju ke Indonesia Emas 2045,” ujar Munadi.
Dia menyoroti adanya pergeseran paradigma yang didorong melalui konferensi ini, yakni perubahan interaksi antar kampus yang semula bernuansa kompetisi menjadi lebih bernuansa kolaborasi.
Forum konsolidasi nasional ini bertujuan menyelaraskan arah strategis pendidikan tinggi Indonesia untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
KPPTI 2025 mengangkat tema sentral “Kampus Berdampak: Konsolidasi dan Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045.”
Sementara itu, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., Rektor Unesa sekaligus Ketua Panitia KPPTI 2025 menyatakan kehormatannya menjadi tuan rumah konferensi puncak pertama yang diselenggarakan di Surabaya.
“Ini sesuatu yang luar biasa. Konferensi puncak yang pertama kali diselenggarakan di Surabaya, ketepatan juga di bulan November, bulannya para pahlawan,” ujar Prof. Hasan. (W9-jm)


*







