SMAN 2 Bandarlampung Diskriminatif, Siswa Gagal Jalur Prestasi Malah Geser Siswa Domisili

Penerimaan peserta didik baru SMAN 2 Bandarlampung disoal warga sekitar sekolah. (foto : ist)

Bandarlampung, Warta9.com
Penerimaan siswa baru tahun ajaran 2025 ini di SMAN 2 Bandarlampung banyak menuai protes dan merugikan warga yang tinggal sekitar SMAN 2 Bandarlampung yang menggunakan jalur domisili.

Hal itu menurut penggiat pendidikan yang juga Ketua Umum Ormas Garuda Berwarna Nusantara Johan Syahril, Selasa 19 Juni 2025 diakibatkan banyak nya siswa yang masuk jalur prestasi yang tidak diterima saat tes kemarin.

“Seharusnya siswa yang sudah masuk lewat jalur prestasi dan ternyata hasil tes nya tidak memenuhi standar nilai tidak boleh lagi masuk jalur domisili dong. Ini sama saja merugikan siswa dari jalur domisili,” ujar Johan Suahril.

“Katanya lewat jalur domisili tapi kenapa siswa-siswa yang berjarak puluhan meter dari SMAN 2 Bandar Lampung namanya hilang. Ini namanya diskriminasi, bilang saja bukan jalur domisili tapi jalur nilai,” tambah Johan Syahril.

“Peraturan yang dibuat memprioritaskan siswa yang tidak diterima lewat jalur prestasi namun di prioritaskan penerimaan jalur domisili merupakan tindakan diskriminasi terhadap siswa jalur domisili,” kata Johan

“Saya minta DPRD Lampung melakukan hearing untuk memanggil Kepala Dinas pendidikan Propinsi Lampung dan kepala Sekolah SMAN 2 Bandarlampung, supaya masyarakat tidak resah, ” ujar Johan Syahril.

Pemantaun wartawan siswa yang mendaftar lewat jalur prestasi di SMAN 2 Bandarlampung sebanyak 372 siswa, namun dari hasil tes yang diterima sebanyak 148 siswa dan siswi artinya sebanyak 204 yang tidak lulus tes jalur prestasi mengikuti jalur domisili.

Namun di lapangan diduga terjadi kecurangan, banyak siswa yang daftar jalur domisili yang tempat tinggalnya sekitar SMAN 2 Bandarlampung tersingkir karena tidak berdasarkan domisili melainkan rangking nilai.

Sementara itu Penerimaan Murid Baru tahun 2025 membingungkan sekaligus merugikan calon murid, terutama dari jalur domisili (warga dekat sekolah).
Hal tersebut dialami oleh tokoh masyarakat sekaligus politisi senior Provinsi Lampung Drs.H. Azwar Yacub.

Menurut Azwar Yacub yang rumah nya terletak di Jl. Amir Hamzah, No.51 Gotong Royong – persis disamping SMAN 2 Bandarlampung (berjarak 50 meter). Sedangkan dalam pendaftaran lewat online jarak antara rumah nya dengan SMAN 2 Bandarlampung 163 Meter.

Yang lebih membingungkan lagi adalah pada saat mendaftar hari Senin tanggal 16 Juni 2025, putra nya bernama Ahmad Syahruddin Yacub ada pada posisi 45 dalam hasil seleksi. Kemudian pada hari Selasa (17 Juni 2025) tepat pada pukul 17.00 nama putea Azwar Yacub hilang sama sekali dari daftar hasil seleksi.

Pantauan media bersama dengan beberapa wali murid yang lain (orang tua pendaftar) merasa aneh. Karena ada yang mendaftar dengan jarak rumah ke sekolah (SMAN 2) sekitar 1000 hingga 2000 meter berada diurutan awal dan nama nya masih tertera pada daftar hasil seleksi.
“Saya kecewa dan emosi melihat cara dan kinerja panitia SPMB tahun 2025, terutama Panitia SMAN 2 Bandarlampung yang berdekatan dengan rumah saya hingga sekarang.
“Bayangkan saja jarak rumah saya dengan SMAN 2 Bandarlampung kira-kira tiga menit berjalan kaki bisa sampai. Saya adalah kelahiran asli Gotong Royong dan rumah orang tua saya masih berada di Gotong Royong. Kemudian KK dan alamat saat mendaftar juga di Gotong Royong,” kata Azwar Yacub dengan nada geram.

Dia menambahkan, bahwa kalau cara seperti ini jelas menyalahi aturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan. “Ini namanya sama saja dengan mengedepankan nilai dari pada tempat tinggal (domisili). Bila tetap dibiarkan praktek seperti ini saya akan menghadap Gubernur Lampung, Kadis Pendidikan Provinsi Lampung dan lembaga lainnya untuk menyelidiki serta protes keras kepada pihak SMAN 2 Bandarlampung,” tambah Azwar.

*Warga Gotong Royong Geruduk Sekolah
Sementara saat dihubungi via Hand Phone Kepala Sekolah SMAN 2 Bandarlampung Dra. Sevensari, S.Pd. MM tidak mengangkat Hand Phone nya hingga berita ini ditayangkan.
Dalam kaitan tersebut nampak terlihat puluhan warga Gotong Royong didampingi oleh Pamong setempat (RT) menngeruduk atau mendatangi SMAN 2 Bandarlampung. Mereka berbondong- bondong menanyakan keberadaan SMAN 2 yang tidak dapat menerima warga yang ingin bersekolah di kampung sendiri.

“Kami merasa dirugikan dan tidak ada gunanya SMAN 2 berada di Kelurahan Gotong Royong. Rata-rata yang diterima siswa/i dari luar Kelurahan kami,” ujar salah seorang RT setempat. (W9-jm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses