Bandar Lampung, Warta9.com – Proses pemilihan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di Fakultas Dakwah UIN Raden Intan Lampung menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Alih-alih menjadi ajang pembelajaran politik yang sehat, demokrasi kampus justru dinilai mengalami “mati suri” akibat dominasi dan intervensi pihak tertentu dalam proses pemilihan, Minggu (10/08/2025).
Sejumlah mahasiswa mengungkapkan bahwa mekanisme yang seharusnya berjalan terbuka, adil, dan partisipatif kini tergerus oleh praktik yang dianggap mengunci ruang kompetisi. Mulai dari pembatasan bakal calon, pembungkaman aspirasi, hingga proses penetapan yang terkesan formalitas tanpa kontestasi.
“Demokrasi di fakultas ini seperti tinggal slogan. Mahasiswa tidak lagi diberi ruang untuk memilih, karena kandidat sudah ‘disepakati’ jauh sebelum proses dimulai,” ujar salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini memunculkan kekecewaan mendalam di kalangan aktivis dan civitas akademika yang menilai kampus seharusnya menjadi laboratorium demokrasi. Dugaan intervensi birokrasi dalam proses politik mahasiswa dianggap mencederai independensi ORMAWA dan mematikan semangat kritis generasi muda.
Beberapa pihak mendesak agar pihak dekanat dan panitia pemilihan segera mengevaluasi sistem yang ada, mengembalikan prinsip demokrasi yang sesungguhnya, dan memastikan keterlibatan seluruh mahasiswa dalam menentukan pemimpin organisasinya.
“Jika demokrasi di kampus saja sudah mati, bagaimana kita bisa berharap lahir pemimpin bangsa yang kritis dan berintegritas di masa depan?” tegas salah satu aktivis mahasiswa.
Rilisan ini menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga ruang praktik demokrasi yang harus dijaga dari segala bentuk manipulasi dan pembajakan kepentingan. (*/)










