Budidaya Maggot, Tubaba Ubah Sampah Bernilai Ekonomi Tinggi

PANARAGAN – Upaya mengurangi volume sampah di Kabupaten Tulangbawang Barat telah dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya akan dilakukan melalui budidaya ulat maggot yang mampu mengurai sampah organik. Selain bernilai ekonomis, metode itu dinilai dapat memberikan manfaat dan relatif mudah diimplementasikan.

Metode mudah yang rencananya akan melibatkan peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Pendidikan, Melta Rini Pahmi, Depok, Jawa Barat ini, disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tulangbawang Barat, Amrullah, kepada warta9.com, Rabu (04/03/2020).

Menurutnya, penggunaan metode tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah di Tubaba yang menggunakan konsep lebih mudah. Ide ini muncul berawal dari keprihatinan pemerintah setempat melihat keberadaan sampah agar bisa bermanfaat.

Setelah mengkaji berbagai macam metode dan inovasi program, Pemkab Tubaba berencana mengurai sampah dengan cara penggunaan maggot. Selain mampu menekan volume sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis yang bermanfaat bagi masyarakatnya.

“Dalam waktu dekat tim dari Biomagg Depok akan meninjau langsung timbunan sampah di Tubaba. Seperti sampah di pasar, warung, pemukiman masyarakat dan tempat-tempat pembuangan sampah. Program ini rencananya akan melibatkan semua pihak, baik kelompok atau masyarakat,” ujar Mantan Kepala Dinas Pendidikan ini.

Maggot Mengandung Protein Tinggi

Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis, yaitu bisa menjadi sumber pakan ternak. Maggot juga mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk pakan ikan dan unggas. Selain itu memiliki kadar protein sekitar 43% jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar proteinnya antara 30% sampai 40%.

Sementara itu, sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau dan bernilai ekonomi, jika dikelola dengan benar.

Menurutnya, sampah organik yang dihasilkan dari maggot bisa menekan penggunaan pakan dan pupuk berbahan kimia. Ikan, ayam pedaging hingga sayur yang menggunakan maggot, lebih sehat dibanding komoditas yang sama di pasaran karena semuanya organik.

Dimana ribuan maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu cepat. Maggot juga sangat cepat berkembang biak. Selain mengurangi timbulan sampah organik, maggot sangat bagus untuk pakan ternak hewan, seperti ikan, burung dan lainya.

“Sampah bisa menjadi berkah dan bernilai ekonomis bagi masyarakat. Sampah bekas sayuran, buah, daging, atau sisa makan sehari-hari akan kita olah untuk dipisahkan,” kata dia lagi.

Budidaya Maggot Melalui Pelatihan

Pihaknya terus berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat melalui percontohan dengan cara pendidikan dan pelatihan. Terlebih lagi, saat ini sampah masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan cenderung menjadi persoalan.

“Saya berharap nantinya bisa menjadi contoh dan diterapkan oleh masyarakat di Tubaba. Karena sampah akan terolah dengan baik. Selain maggot yang nilai jualnya tinggi dan selalu dibutuhkan pasar, pupuk organik juga akan tercipta sehingga bisa untuk memperbaiki sel sel tanah yang rusak oleh pupuk kimia,” ujar pria yang akrab disapa Amrul ini.

Selain itu pemerintah melalui dinas terkait tidak menutup kemungkinan akan menyiapkan pasar untuk budidaya maggot ini. Sehingga dengan konsep jelas serta pasaran yang jelas, nantinya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. “Konsep ini bioteknologi dan lebih riil untuk menambah pendapatan masyarakat,” ulas Amrul.

Pihaknya juga akan menyiapkan beberapa konsep pemberdayaan masyarakat. Diharapkan langkah terobosan teknologi tepat guna bisa dilakukan agar nantinya impian masyarakat sejahtera bisa terwujud. “Sekarang kita coba dulu maggot termasuk hasil dan pasaran. Nanti kita kembangkan lainnya untuk masyarakat,” pungkasnya. (W9-jon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses