Kotabumi, Warta9.com – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan telah menjadi harapan bagi jutaan masyarakat Indonesia yang membutuhkan layanan medis, termasuk mereka yang menjalani pengobatan rutin dan berbiaya besar seperti hemodialisis atau cuci darah.
Salah satu di antaranya adalah Suhersih, warga Desa Bumi Raharja, Lampung Utara. Di tengah kondisinya yang membutuhkan terapi cuci darah rutin akibat gagal ginjal kronis, Suhersih merasa sangat terbantu dengan adanya JKN. Baginya, program ini bukan sekadar jaminan kesehatan, melainkan penyelamat hidup.
“Saya awalnya sakit batu ginjal dan sempat dioperasi tahun 2017. Tahun 2019 saya kena stroke. Belum sembuh dari itu, saya kembali sakit. Tahun 2023 saya periksa ke RS Harapan Bunda karena kaki, perut, dan muka saya bengkak. Setelah tes lab, ternyata ginjal saya bermasalah dan saya harus cuci darah rutin,” tutur Suhersih mengenang perjuangannya.
Ia memulai terapi cuci darah di RS Harapan Bunda, Bandar Jaya, dan menjalani prosedur tersebut selama dua tahun. Namun karena jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya, ia kemudian direkomendasikan pindah ke RS Candimas Medical Center di Kotabumi yang lebih dekat. Proses pemindahan berjalan lancar, tanpa kendala administratif.
“Alhamdulillah, semuanya dimudahkan. Pelayanan di kedua rumah sakit sama baiknya, perawatnya ramah, prosesnya cepat, dan tidak pernah ada masalah. Saya tidak keluar biaya sepeser pun karena semua ditanggung oleh Program JKN,” jelas Suhersih.
Menurutnya, banyak kabar miring tentang pelayanan JKN yang beredar, namun semua itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia alami sendiri.
“Jangan dengarkan omongan yang buruk soal JKN. Saya sudah membuktikan sendiri manfaatnya. Jangan tunggu sakit dulu baru daftar. Kalau kita sudah punya JKN, kita bisa fokus ke pengobatan, bukan ke biaya,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kotabumi, Wahyu Santoso, menegaskan bahwa perlindungan kesehatan lewat JKN semakin penting di tengah naiknya biaya pelayanan dan meningkatnya kasus penyakit kronis.
“Pola penyakit masyarakat bergeser dari yang ringan ke kronis, seperti gagal ginjal yang butuh terapi jangka panjang dan biaya besar. Tanpa jaminan kesehatan, dampaknya bukan hanya ke tubuh, tapi juga ke ekonomi dan kehidupan sosial pasien,” terang Wahyu.
Ia juga menekankan bahwa seluruh penduduk Indonesia perlu memiliki perlindungan jaminan kesehatan agar tidak terjebak dalam kondisi rentan ketika tiba-tiba jatuh sakit. Terlebih lagi, kemajuan teknologi medis juga turut meningkatkan biaya layanan kesehatan secara signifikan.
Bagi Suhersih, Program JKN bukan hanya membantunya bertahan secara fisik, tapi juga menjaga stabilitas finansial keluarganya.
“Kalau saya harus bayar sendiri, mungkin saya sudah tidak sanggup. Tapi karena JKN, saya bisa menjalani cuci darah tanpa beban. Saya bersyukur sekali bisa jadi peserta. Saya harap masyarakat lain juga mendaftarkan diri, apalagi yang belum punya,” ucapnya dengan tulus.
Kisah Suhersih menjadi pengingat bahwa jaminan kesehatan bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan yang penting bagi semua. Dan Program JKN telah membuktikan dirinya sebagai sistem yang berpihak pada rakyat, memberi harapan, dan menjaga kehidupan mereka yang berjuang melawan penyakit kronis.











